30/11/19

Resensi Buku


HUJAN
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: Januari 2016
Desain Cover: Orkha Creative
Tebal Halaman: 320 halaman
ISBN: 978-602-03-2478-4

“Jangan berhenti mencinta hanya karena pernah terluka, karena tak ada pelangi tanpa hujan,
tak ada cinta sejati tanpa tangisan”



Hujan merupakan cerita yang dimulai dari pertemuan antara Lail dan Elijah di tempat terapi yang memiliki teknologi tinggi. Lail ingin menghapus semua ingatannya tentang hujan. Dia sangat membenci hujan. Baginya, hujan adalah kepedihan.

Bab berikutnya adalah flashback saat Lail masih berusia 13 tahun. Lail kecil harus merasakan kengerian bencana gunug meletus dan gempa yang melebihi letusan gunung Krakatau dan gunung Tambora di tahun 2042. Semburan material vulkanik dengan ketinggian 80 km dan suara letusannya terdengar hingga 10 ribu km telah menghancurkan segala yang ada dalam radius ribuan kilometer. Tak banyak yang tersisa. Hanya sekitar 10 persen dari penduduk bumi yang tersisa dan Lail kecil harus menjadi yatim piatu.

Saat bencana itu datang, Lail sedang dalam perjalanan ke sekolah bersama ibunya. Hari pertama sekolah merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi Lail tapi kenyataannya merupakan petaka bagi hampir seluruh penghuni bumi. Lail selamat tapi tidak dengan ibunya. Lail bertemu dengan seorang anak lelaki berusia 15 tahun yang bernama Esok. Mereka berjuang bersama-sama untuk menyelamatkan diri. Keluarga Esok yang selamat adalah ibunya tetapi kedua kaki ibunya pun harus diamputasi. Ayah dan 4 saudaranya meninggal dalam kejadian itu.

Hari-hari selanjutnya mereka jalani di tenda pengungsian. Lail masih merasakan kesedihan karena kehilangan kedua orang tuanya sedangkan Esok turut membantu petugas di tenda pengungsian. Selain itu Esok selalu berusaha menghibur Lail. Persahabatan mereka semakin akrab dilandasi rasa senasib, sependeritaan dan kebersamaan di tempat pengungsian.
Hingga suatu hari ada keluarga wali kota yang akan mengadopsi Esok. Sementara itu Lail pun harus pindah ke asrama. Karena kesibukan masing-masing, maka mereka pun mulai jarang bertemu. Esok sudah mulai kuliah dan Lail tidak berani untuk menghubungi Esok lebih dulu meskipun hatinya rindu pada Esok. Pertemuan mereka pun semakin jarang. Kini hanya satu tahun sekali.

Lail berusaha melupakan Esok dengan melakukan berbagai kesibukan mulai dari kursus masak hingga menjadi relawan di sebuah organisasi kemanusiaan.

Sementara itu Esok yang pintar telah sukses menciptakan kapal luar angkasa. Karena penduduk bumi tinggal sedikit, maka mereka harus diungsikan ke planet lain menggunakan kapal luar angkasa ciptaan Esok.

Hanya orang-orang terpilih saja yang akan diterbangkan terlebih dahulu ke luar angkasa. Esok memiliki dua tiket. Esok ingin memberikan salah satu tiketnya untuk Lail. Tapi sebelum tiket itu diberikan kepada Lail, wali kota menemui dan memohon pada Lail agar tiket tersebut diberikan kepada anak perempuannya. Ada peperangan batin pada diri Lail. Lail ingin penjelasan dari Esok tentang hubungan mereka tapi Esok tidak datang saat mereka membuat janji untuk bertemu. Lail kecewa. Akhirnya Lail bertekad untuk menghapus semua ingatannya pada Esok dengan memanfaatkan alat yang canggih yang ada pada saat itu.

Sebelum pemindaian ingatan itu terjadi, Lail berubah pikiran. Ia memilih menghapus ingatannya tentang hujan dan tetap ingin mengingat Esok betapapun sakitnya ingatan itu.

Akhirnya Lail hidup bahagia di bumi dan menikah dengan Esok.

Kelebihan novel ini yaitu desain sampulnya sederhana dan sudah merefleksikan isi cerita tentang kepedihan di kala hujan.

Cerita ini merupakan gambaran penulis di tahun 2050-an. Tere Liye berhasil menggiring pembaca untuk berimajinasi tentang kecanggihan teknologi pada masa itu. Dengan gaya bahasa yang khas Tere Liye mampu menyampaikan kesan romantis yang tidak murahan yang hampir ada di setiap karyanya.

 

Kekurangan dari buku ini yaitu pada awal cerita sempat membingungkan saya karena setting cerita di masa datang tapi ketika terus membaca maka  semakin jelas alur ceritanya.


Buku ini mengajarkan kita agar ikhlas menerima takdir yang sudah digariskan pada kita. Jika kita bisa menerimanya maka segala kesakitan akan dapat kita jalani tanpa mengeluh. Jalan pintas bukanlah solusi dari suatu permasalahan hidup karena sejatinya hidup adalah suatu proses yang harus kita jalani, baik itu senang ataupun menyakitkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar