24/09/19

Eksplorasi Literat

BAIT-BAIT PUISI ANAKKU


Kereta api Senja Utama Yogya dari stasiun Pasar Senen tiba di stasiun Yogyakarta sekitar pukul 03.00 dini hari. Aku menyeret koperku keluar dari stasiun Yogya. Hari masih gelap dan sepi. Beberapa tukang becak dan supir taksi menawarkan jasanya kepadaku. Aku menolak secara halus. Tidak mungkin aku naik becak atau taksi menuju pondok di Magelang. Terlalu jauh. Tak terbayangkan olehku harus membayar berapa rupiah nantinya.


Aku menyusuri jalan di sepanjang jalan Malioboro. Rrrrtttt......rrrrttttt.....Bunyi koper yang kuseret membangunkan seorang gelandangan yang sedang tertidur di emperan toko. Tapi tak lama kemudian dia tidur lagi. Tak peduli dengan suara koper yang kugeret. Toko-toko masih tutup. Jalanan yang biasanya ramai oleh kendaraan kini terlihat lengang. Sekelompok pemuda sedang bernyanyi dan memainkan gitar. Beberapa orang di pojokan lainnya sedang bercakap-cakap sambil tertawa-tawa. Perasaan takut mulai menyeruak dalam hatiku. Ya Allah, lindungi aku. Begitu doaku dalam hati sambil membaca surat An-nas. Langkahku makin kupercepat. Mataku awas melihat papan nama yang ada di sebelah kanan jalan Malioboro. Akhirnya sampai juga. KFC. Restoran siap saji ini yang jadi tujuanku. Restoran ini buka 24 jam.

“Selamat pagi,” sapa suara ramah mas penyaji sambil membantuku membuka pintu restoran. Aku tersenyum.
“Sudah bisa pesan makanan, mas?” tanyaku.
“Silakan bu,”
Aku memesan paket hemat yang berisi nasi, ayam dan minuman. Aku mencari tempat duduk di pojokan yang ada lubang untuk mengisi batere ponsel. Ponselku lowbat.


Pukul 07.00 aku menuju halte Malioboro 1. Aktivitas para pedagang mulai terlihat ramai dan kendaraan umum dan kendaraan pribadi mulai memadati jalan raya.
“Mas, naik bis transyogya no berapa ya kalau mau ke Magelang?” tanyaku setibanya di halte.
“Ibu e naik bis no 8 turun di halte Ahmad Dahlan. Dari sana naik no 2A turun di terminal Jombor.” Jawab petugas halte.
“Naik no 8 turun di Ahmad Dahlan terus naik no 2A turun di Jombor. Begitu mas?” tanyaku sambil mengingat-ingat.
“Njeh bu.”
Aku membayar dengan uang pas 3.500 rupiah.


Setibanya di terminal Jombor, aku melanjutkan perjalanan ke Magelang dengan naik bis umum dengan membayar 7.000 rupiah dan turun di pabrik kertas. Kemudian dilanjutkan dengan naik ojek 20.000 rupiah.

Perjalanan panjang yang melelahkan dari Bogor ke Magelang gonta ganti kendaraan berubah menjadi suka cita manakala aku bertemu dengan Fatur, putraku satu-satunya yang sedang belajar di salah satu pondok pesantren modern terkenal. Momen-momen seperti ini yang selalu membuatku rindu padanya. Di sela-sela kesibukannya menuntut ilmu dan belajar disiplin, kami sempatkan makan bersama dengan teman-temannya. Terkadang aku kasihan melihatnya. Wajahnya terlihat lelah sekali. Badannya terlihat makin kurus. Rasanya aku ingin menangis setiap kali melihatnya. Apalagi melihat penyakit kulit ‘jarban’ yang menggerogoti jari tangannya. Kukunya sampai terlepas. Penyakit ‘jarban’ ini adalah penyakit kulit yang biasa menghinggapi para santri. Rumornya belum jadi santri kalau belum kena penyakit ‘jarban’.

Tak terasa sudah 2 hari aku disini. Minggu malam aku harus kembali ke Bogor karena Senin sudah harus bekerja lagi. Ingin rasanya berlama-lama di sini menemani Fatur belajar. Aku melihat kilatan mata kesedihan di mata Fatur setiap kali aku kembali ke Bogor. Aku harus kuat dan ikhlas. Jika itu kulakukan, inshaa Allah anakku pun akan kuat dan ikhlas belajar di sini semoga nantinya lancar belajarnya hingga lulus.

Dua hari setibanya aku di rumah, anakku menelpon dan memintaku untuk memeriksa isi dompet batik tempat kusimpan uang recehan. Disana ada secarik kertas yang berisi bait-bait puisi tulisan anakku.
IBUKU
Ketika aku duduk sendiri
Diantara gerbong kereta
Ketika itu aku mencari
Tujuan hidup ini

Ketika itu anganku melayang
Menerawang masa lalu
Kuteringat disaat ibuku
Menggendong bermain denganku

Ketika itu pula kuteringat
Raut wajah ayahku
tersenyum manis
Memandang diriku

Kutitip rindu buat ibu
Yang selalu kucinta
Yang selalu kusayang
dan kurindu

Menatap wajahmu
Mendengar suaramu
Kubahagia selamanya

(Bu, doa in aku ya biar sukses, naik kelas 3 Int. Jangan lupa shalat ya. Banyak-banyak sedekah. Aku juga doa in ibu. Jangan lupa in aku ya. Ayah, jagain ibu ya).

Anakmu, Fatur R. Sikumbang
Gontor 6 Magelang, 13 Mei 2012

Aku terharu. Mataku terasa panas. Tak terasa air mata bergulir jatuh ke pipiku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar